Uji coba bahan bakar B30 pada truk biodiesel Mitsubishi Fuso telah dilakukan pada tahun 2020 lalu. Percobaan yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM itu menunjukkan bahwa Mitsubishi Fuso tak menunjukkan perubahan daya yang signifikan dibanding truk yang menggunakan bahan bakar B20. Meski demikian, bahan bakar truk atau kendaraan niaga terbaru ini memiliki manfaat yang lebih banyak.
Memang, seberapa
efektif, sih, bahan bakar ini untuk kendaraan? Simak ulasan lengkapnya di
bawah ini.
Efektivitas B30 pada Kendaraan
Andriah Feby
Misna selaku Direktur Bioenergi Direktorat Energi Baru Terbarukan dan
Konservasi Energi atau EBTKE Kementerian ESDM mengungkapkan implementasi
biodiesel yang mencakup B30 sudah melewati perencanaan matang dan sistematis.
Serangkaian uji konstruktif dan komprehensif diharapkan dapat menekan risiko
dan kerugian, baik terhadap kendaraan maupun lingkungan.
Hal tersebut
dibuktikan dengan pemakaian fatty acid methyl ester dari kelapa sawit
yang diproses sebagai salah satu bahan dasar B30 yang dikatakan lebih aman
dibandingkan solar. Kemudian, saat performa B30 diuji di dataran tinggi Dieng,
mesin kendaraan yang menerima bahan bakar tersebut memperlihatkan start
ability yang mulus setelah bahan bakar didiamkan (soaked) selama 21 hari. Kemudian pada trek lurus, mobil mempunyai kestabilan
yang baik dan dapat melaju dengan kecepatan maksimal 100 kilometer per jam.
Feby lantas
menegaskan ada tiga faktor yang memengaruhi keberhasilan B30. Antara lain mutu
bahan bakar, penanganan bahan bakar, serta kompatibilitas material terhadap bahan
bakar. Masalah seperti kerusakan pada injektor bisa saja terjadi akibat
ketidaksesuaian salah satu atau semua faktor yang disebutkan.
Bahan Bakar B30 sebagai Penerus dari B20
Sebelumnya,
pemerintah sudah menganjurkan masyarakat untuk menggunakan B20 sebagai bahan
bakar kendaraan. Pada 2018, sekitar 3,75 juta kiloliter B20 yang dikonsumsi
masyarakat untuk kendaraan telah menghemat devisa negara hingga USD1,89 miliar
(setara dengan Rp26,27 triliun). Hal ini pun menciptakan lapangan kerja untuk
lebih dari 400 ribu orang dan meningkatkan kualitas lingkungan sampai 5,61 juta
ton CO2.
Pada tahun
berikutnya, konsumsi B20 meningkat hingga 6,36 juta kiloliter (per 15 Januari
2020) dengan penghematan devisa hingga USD2,92 miliar (setara dengan RP42,05
triliun) dan mampu membuka lapangan kerja untuk lebih dari 800 ribu orang.
Adapun peningkatan kualitas lingkungan yang dihasilkan mencapai 9,51 juta ton
CO2.
Sebagai
penerus B20, B30 diharapkan dapat meningkatkan penyerapan CPO sampai 2,6 juta
ton (setara dengan Rp9,16 triliun) beserta pemakaian biodiesel sebesar 9,59
juta kiloliter.
Penghematan devisa yang menjadi dampaknya diprediksikan akan mencapai USD4,40
miliar (setara dengan Rp63,40 triliun). Sementara lapangan kerja yang muncul
dapat tersedia untuk 1,2 juta orang dengan peningkatan mutu lingkungan 14,34
juta ton.

No comments:
Post a Comment