Showing posts with label Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Peternakan. Show all posts

Monday, November 30, 2020

Bahan Pakan Ternak, Ransum, Dan Konsentrat


 segala sesuatu yang sanggup diberikan terhadap ternak  Bahan Pakan Ternak, Ransum, dan Konsentrat
Bahan Pakan Ternak, Ransum, dan Konsentrat - Bahan pakan (bahan masakan ternak) adalah segala sesuatu yang sanggup diberikan terhadap ternak (baik berupa materi organik maupun anorganik) yang sebagian atau segalanya sanggup dicerna tanpa mengusik kesehatan ternak. Pada biasanya pemahaman pakan (feed) digunakan untuk binatang yang termasuk kuantitatif, kualitatif, kontinuitas serta keseimbangan zat pakan yang terkandung di dalamnya.

Ransum merupakan pakan jadi yang siap diberikan pada ternak yang disusun dari aneka macam jenis materi pakan yang telah dijumlah (dikalkulasi) sebelumnya menurut keperluan industri dan energi yang diperlukan. Ransum mesti sanggup menyanggupi zat-zat masakan yang diperlukan seekor ternak untuk aneka macam fungsi tubuhnya, menyerupai hidup pokok, produksi, maupun reproduksi.

Ransum yaitu pakan yang ditawarkan untuk menyanggupi keperluan ternak selama 24 jam. Ransum ternak unggas dan ruminansia sungguh berbeda, disebabkan lantaran perbedaan dalam metode pencernaannya.

Konsentrat merupakan campuran dari beberapa materi pakan untuk melengkapi kelemahan gizi dari hijauan masakan ternak. Terdiri dari materi pakan dengan kandungan serat bergairah rendah dan mudah dicerna berasal dari biji-bijian, hasil ikutan/limbah pertanian dari pabrik pembuatan hasil pertanian dan materi berasal dari binatang menyerupai tepung ikan, tepung darah dan lain-lain. 

Konsentrat merupakan masakan ternak penguat yang kaya karbohidrat dan protein menyerupai jagung, bekatul, dan bungkil-bungkilan. Pakan konsentrat sanggup dibeli dalam bentuk materi masakan misalnya dedak, bekatul, jagung, dll. Konsentrat digunakan khususnya pada di saat pertumbuhan, pada masa kebuntingan maupun di saat menyusui induknya.

Thursday, November 5, 2020

Taksonomi Unggas


Taksonomi Unggas

Sistem Klasifikasi Ternak Unggas

Kingdom :  Animalia 
Phylum :  Chordata
Sub Phylum :  Vertebrata
Class :  Aves 
Ordo :  Galliformes
Family :  Phasianidae
Genus :  Gallus
Spesies :  Gallus gallus (Linnaeus, 1758)
       Sub Spesies :  Gallus gallus gallus   (Linnaeus, 1758)
:  Gallus gallus spadiceus (Bonnaterre, 1792)
:  Gallus gallus bankiva (Temminck, 1813)
:  Gallus gallus murghi   (Robinson & Kloss, 1920)
:  Gallus gallus jabouille (Delacour & kinnear, 1928)
:  Gallus gallus domesticus (Linnaeus, 1758)
:  Gallus gallus gallus (Linnaeus, 1758)
Spesies :  Gallus varius (Shaw, 1798)
:  Gallus sonneratii (Temminck, 1813)

Teori Asal-usul Terbentuknya Bangsa Ayam Modern
1. Teori Monophyletic (Charles Darwin, 1868),  nenek moyang : Gallus gallus (Red Jungel Fowl)
      Alasan :
Praktis dikawinkan secara bebas dengan bangsa-bangsa ayam yang ada sekarang, sedangkan 3 spesies yang lain sungguh sulit.
F1 hasil persilangan Gallus gallus  dengan bangsa ayam yang ada kini lazimnya fertile, sedangkan yang lain steril
Ciri-ciri ayam Brown Leghorn, Black Breasted dan red Games khususnya warna bulu seolah-olah dengan Gallus gallus
Hasil perkawinan bangsa-bangsa ayam yang sudah didomestikasi sewaktu-waktu menyediakan ciri yang seolah-olah dengan Gallus gallus

2. Teori Polyphyletic
Mengemukakan dua kemungkinan
nenek moyang : dua atau lebih dari keempat spesies yang ada sekarang
nenek moyang : lebih dari empat spesies yang ada sekarang
      Alasan :
Bangsa-bangsa yang terbentuk dalam kelas Mediteranian mungkin diturunkan oleh sedikitnya dua spesies dari keempat spesies yang ada
Bangsa-bangsa yang terbentuk dari kelas Asia kemungkinan diturunkan oleh nenek moyang dari jenis yang sudah musnah
Alasan tersebut dikemukakan menurut adanya perbedaan prinsipil antarra bangsa-bangsa ayam dari kelas Mediteranian dengan bangsa-bangsa ayam dari kelas Asia

Tuesday, November 3, 2020

Empat Spesies Ayam

Empat Spesies Ayam


1. Gallus gallus (Red Jungel Fowl)
      Ciri-ciri :
Bulu utama pada ekor 14 helai
Jengger tunggal bergerigi, pial dua buah
Badan relatif kecil
Jantan : bulu leher; sayap dan punggung merah
         : bulu dada dan tubuh bab bawah hitam
Betina : bulu berwarna cokelat dan bergaris hitam
Telur kecil berwarna merah kekuningan
Jumlah telur  per clutch sedikit
Penyebaran : China, India, Asia Tenggara
G g bankiva (Java Red Jungel Fowl) : Sumatera, Jawa, Bali
G g spadecius (Burmese Red Jungel Fowl) : China Selatan, Burma, Thailand, semenanjung Malaysia, Sumatera bab Utara
G g gallus (Conchin-Chinesse atau Indochina Red Jungel Fowl) : Thailand Timur, Kamboja, Laos Tengah, Laos Selatan dan Vietnam bab Selatan)
G g jabouille (Tonkinese Red Jungel Fowl) : China bab Selatan dan Vietnam bab Utara 
Red Jungle Fowl juga menyebar di Filiphina (G g philippenisis), Micronesia (G g micronesia), Melanesia dan Polynesia (G g gallina)

2. Gallus varius (Green Jungel Fowl)
Gallus varius (Green Jungel Fowl) : Jawa, bali, Lombok, Sumbawa, Flores dan pulau-pulau kecil disekitarnya.
      Ciri-ciri :
Bulu utama pada ekor 16 helai
Jengger tunggal licin tidak bergerigi
Badan relatif kecil
Jantan : bulu leherpendek-pendek berupa bulat
Warna bulu hitam dengan lapisan warna hijau pada permukaannya, di Jawa Barat disebut kasintu /cangehgar

3. Gallus lafayetii (Ceylonese/Srilanka Jungel Fowl)
Gallus lafayetii (Ceylonese/Srilanka Jungel Fowl) : Srilanka
      Ciri-ciri :
Mirip Gallus gallus kecuali bulu bab dada dan tubuh bab bawah berwarna jingga, bab tengah jengger berwarna kuning
Kerabang telur berbintik-bintik

4. Gallus sonneretii (Grey Jungel Fowl)
Gallus sonneretii (Grey Jungel Fowl) : India bab Selatan dan Barat
      Ciri-ciri :
Mirip Gallus gallus  dengan faktor warna bulu keabu-abuan
Kerabang telur adakala berbintik-bintik

Catatan :
G g, gg = Gallus gallus

Sunday, November 1, 2020

Penyakit Terusan Pernafasan Unggas


Penyakit Saluran Pernafasan Unggas

1. Chronic Respiration Disease (CRD)

Penyebab        : Bakteri Mycoplasma gallisepticum
Gejala klinis  :
Gangguan pernafasan/ngorok, bersin dan kepala tertunduk atau dikibas-kibaskan
Keluar cairan/getah dari hidung dan cairan berbusa dari mata
Nafsu makan turun  BB turun/kerdil
Produksi telur turun 20 – 30 %
Penularan       :
Melalui telur tetas/anak ayam
Kontak pribadi dengan ayam sakit
Pengobatan  :
Antibiotik Erithromisin, tilosin  Aplikasi : injeksi, air minum/pakan

2. Infectious Bronchitis (IB)

Penyebab        : Corona virus
Gejala klinis  :
Sesak nafas eksudat mirip keju dalam percabangan bronchi
Kematian jarang pada ayam dewasa
Produksi  telur  turun sampai 0%, jarang sanggup berproduksi wajar kembali
Bentuk telur abnormal
Penularan       : Melalui  sirkulasi udara
Pengobatan  :
Tidak ada
Mencegah infeksi sekunder dengan antibiotik
Pencegahan :
Vaksinansi paling efektif

3. Infectious Laryngo Traceitis (ILT)

Penyebab        : Virus dari grup herpes
Gejala klinis  :
Gejala pertama   mata berair
Sulit bernafas, batuk dan bersin  malas bergerak
Pembentukan eksudat  pada trachea dan larynx
Lapisan trachea mengelupas
Mortalitas 1% per hari  kondisi parah
Produksi  telur  turun 10 - 50%, kembali wajar sehabis 3 – 4 mgg
Penyebaran lebih lambat dari pada IB
Penularan       :
Melalui  udara / pernafasan
Pakaian pengunjung, perlengkapan terinfeksi
Pengobatan  :
Untuk pencegahan dilakukan

4. Infectious  Coryza (Snot)

Penyebab        : Bakteri  Hemophilus paragalinarum
Gejala kilinis  :
Muka membengkak
Peradangan pada mata dan hidung, berbau busuk
Radang conjunctive (conjunctivitis)
Konsumsi ransum air minum menurun dan BB turun/kerdil
Produksi telur turun
Kematian bervariasi, kebanyakan rendah
Penularan       :
Kontak langsung
Melalui udara dan peralatan
Melalui air minum dan pegawai kandang
Pengobatan  :  Antibiotik
Pencegahan  :  Vaksinansi cuma di tempat endemik

5. Avian Influenza (AI)

Penyebab        : Myxovirus
Gejala :
Kematian secara tiba-tiba  dalam jumlah banyak
Jengger dan pial berwarna ungu kebiruan (sianosis)
Kadang-kadang keluar cairan dari mata dan hidung
Muka dan kepala mengalami pembengkakan
Terjadi pendarahan di bawah kulit
Terdapat bintik-bintik perdarahan  pada dada, kaki dan telapak kaki
Otot dada berwarna ungu kebiruan
Diare cair
Pada ayam petelur, bedah bangkai menampilkan bakal telur yang seumpama bubur dan berdarah
Penularan       :
Melalui udara / pernafasan
Melalui  feses
Peralatan dan pegawai kandang
Pengobatan  : 
Belum ada
Pemberian antibitik sanggup meminimalisir infeksi sekunder
Pencegahan  :  Vaksinansi

Friday, October 30, 2020

Penyakit Susukan Pencernaan Unggas


Penyakit Saluran Pencernaan Unggas

1. Tipus unggas / Fowl thypoid (Berak Hijau)

Penyebab        : Bakteri  Salmonella gallinarum
Gejala klinis  :
Diare hijau
Hati membesar pucat, limpa dan ginjal membesar, dibarengi pendarahan
Kantong empedu meregang, peradangan pada duodenum
Kematian sanggup meraih 50%
Penularan       :
Feses, bangkai, perlengkapan dan pegawia kandang
Bisa menyerang ayam dewasa
Pengobatan  :  
Preparat sulfa, tetrasiklin atau furazolidone, tetapi tidak efektif
Pencegahan  :  
Memusnahkan  ternak terinfeksi lewat test darah
Vaksinansi jarang dilakukan

2. Pullorum (Berak Kapur)

Penyebab        : Bakteri  Salmonella pullorum
Gejala  :
Feses berwarna putih kapur, pantat kotor dan  bulu lengket
Kematian jaringan jantung, hati dan paru-paru
Caecum membesar berisi  material mengkeju
Pengecilan dan pengerutan indung telur
Penularan       :
Melalui induk terinfeksi terhadap telur
Melalui telur yang gres menetas   mesin tetas (egg borne disease)
Pengobatan  :  
Tidak efektif paada ayam petelur, cuma dijalankan pada ayam broiler dengan tunjangan preparat sulfa dan antibiotik
Pencegahan  :  
Melakukan test pullorum secara berkala
Mengeluarkan induk terinfeksi sehingga peternakan bebas pullorum

3. Coccidiosis (Berak Darah)

Penyebab        : Protozoa (Eimeria accervuline, Eimeria necatrix, Eimeria tenella, Eimeria maxima, Eimeria brumetti
1. Caecal coccidiosis  caecum : Eimeria tenella
Gejala :
Menyerang ayam hingga umur 12 minggu
Ayam tmapak lesu, nafsu makan turun
Jengger pucat, feses berdarah
2. Small intestinal coccidiosis  usus halus : Eimeria accervuline, Eimeria necatrix,
      Eimeria maxima, Eimeria brumetti 
“Menyerang ayam semua umur”

Gejala :
Hampir sama dengan caecal coccidiosis
BB turun, buatan telur turun
Penularan : feses terkotori yang mengandung oocyst
Pengobatan  :   Coccidiocil agent ???
Pencegahan  :  
Penambahan coccidiostat ke dalam ransum
Litter diusahakan senantiasa higienis dan kering

4. New Castle Disease (ND)

Penyebab        : Paramyxovirus
Penularan       :
Melalui feses terinfeksi atau pernafasan
Melalui  peralatan, pegawai sangkar dan burung liar

Ada 3 tipe tanda-tanda  :
Gejala pernafasan : radang trakhea, sukar bernafas
Gejala syaraf : kelumpuhan dan tortikoli
Gejala pencernaan : peradangan dan pendarahan di proventriculus intestin
Kerabang tipis, kadang tanpa kerabang
Mortalitas meraih 100%n indung telur
Pengobatan  :  Belum ada
Pencegahan  :  Vaksinasi

5. Fowl Cholera  (Kolera Unggas)

Penyebab        : Bakteri  Pasteurella cholera gallinarum
Gejala  :
Peradangan selaput lendir mata disertai keluar kotoran
Daerah muka, pial dan tulang membesar
Feses sungguh encer kadang berwarna kekuningan
Hati membesar berwarna gelap
Sendi kaki dan sayap bengkak, ayam jalan sempoyongan hingga lumpuh
Penularan       :
Pencemaran pakan/air minum oleh lendir ayam sakit
Kandang yang terlalu padat, kedinginan, sanitasi jelek
Pengobatan  :  
Antibiotik strptomicin, termicin atau sulfa
Pencegahan  :  
Vaksinasi pada umur 6 – 8 minggu

6. Kolibasilosis

Penyebab        : Bakteri  Escherchia coli
Gejala  :
Diare, bulunya kotor disekitar pantat
Radang kantong udara, perikarditis, perihepatitis
Getah fibrin menutupi sebagian besar hati
Penularan       :
Lingkunan sangkar yang berair dan kotor
Pengobatan  :  
Antibiotik
Pencegahan  :  
Melalui sanitasi perbaikan lingkungan, pakan dan air

7. Gumboro (Infectious Bursal Disease)

Penyebab        : Virus
Gejala  :
Bulu kusam dan diare belendir mengotori pantat
Angka simpulan hidup 5- 80% , angka kesakitan 100%
Bursa fabricus membengkak, getah melampaui normal/mengkeju, bentuknya membulat dan berwarna kuning hingga merah/mendarah
Oot paha dan dada mendara, ginjal bengkak

Pencegahan  :  
Melalui vaksinansi