Showing posts with label penyuluhan peternakan. Show all posts
Showing posts with label penyuluhan peternakan. Show all posts

Sunday, September 6, 2020

Materi Penyuluhan

Materi Penyuluhan

“Segala materi atau materi yang disampaikan dalam  kegiatan penyuluhan”

Materi Penyuluhan Meliputi:

  • Segala pemberitahuan pertanian / peternakan 
  • Latihan ketrampilan
  • Dorongan / motivasi

Materi Pokok (subject matter)

  • Ilmu Teknik Pertanian / Peternakan
  • Ilmu Ekonomi Pertanian / Peternakan 
  • Ilmu Tatalaksana Rumah Tangga Petani-Peternak
  • Dinamika Kelompok
  • Politik Pembangunan 

Sifat-sifat Materi Penyuluhan

  1. Yang terdiri dari pemecahan kendala yang sedang dihadapi
  2. Yang terdiri dari isyarat / saran teknis
  3. Yang bersifat instrumental

Ilmu Teknis Peternakan
Kegiatan Produksi  Peternakan:
- tatalaksana budidaya peternakan
- cara penyediaan pakan
- tatacara penyusunan ransum
- tata cara derma pakan
- tata cara reproduksi ternak
Kegiatan Pengolahan Hasil:
- pengelolaan hasil ternak
        - pengawetan ternak
- pembuatan hasil peternakan
Ilmu Ekonomi Peternakan
Pengelolaan jerih payah tani-ternak  yang lebih efisien
Penguasaan & penjualan hasil buatan peternakan
Penggunaan / pemanfaatan fasilitas kredit
Kelembagaan ekonomi / koperasi
Ilmu Tatalaksana Rumah Tangga

Pemilihan Materi Penyuluhan

Biasanya petani-peternak terpikat pada:

  1. Hal-hal yg mempunyai korelasi pribadi dengan mereka
  2. Kejadian yang menarik
  3. Hal-hal yg terjadi di sekeliling dirinya
  4. Pertentangan
  5. Keberhasilan atau kemajuan baru 
  6. Sesuatu yang hebat atau istimewa 
  7. Inovasi & teknologi

Cara Penyusunan Materi  Penyuluhan
  1. Buat Outline –  gambaran menyeluruh: bentuk & isi makalah materi penyuluhan
  2. Persiapkan – materi pustaka, tumpuan pendukung, data statistik, grafik & tabel 
  3. Penulisan – mulai dari hal-hal bersifat kualitatif, deskriptif-analisis
  4. Isi – Ringkas, padat, menyeluruh dan rinci
  5. Gaya bahasa – gaya bahasa lisan
  6. Syarat penulisan – mudah dikenal menyanggupi syarat-syarat:
  7. Pergunakan bahasa yang sederhana (1. perjelas & persingkat ungkapan teknis; 2. gunakan kata sehari-hari)
  8. Susun dan rangkaikan perbedaan pertimbangan dengan terang (1. sajikan ide dalam urutan yg logis; 2. bedakan antara gunjingan pokok dgn sampingan; 3. tetap menonjolkan tema utama)
  9.  Nyatakan hal-hal pokok dengan singkat
  10. Jadikan goresan pena memukau untuk dibaca

Friday, September 4, 2020

Tingkatan Adopter Dalam Penyuluhan Difusi Inovasi

Tingkatan Adopter dalam Penyuluhan Difusi Inovasi


Kategori Adopter
  1. inovator (innovators), 
  2. pengadopsi permulaan (early adopters), 
  3. mayoritas permulaan (early majority), 
  4. mayoritas lambat (late majority), dan 
  5. kelompok lamban (laggars).
Inovator (innovators)
Inovator merupakan individu-individu yang senantiasa ingin menjajal sesuatu yang baru. Kemampuan finansialnya mesti cukup mendukung cita-cita tersebut, alasannya belum tentu penemuan yang dicobanya menciptakan sesuatu yang menguntungkan secara finansial. Mereka juga berhadapan dengan resiko ketidakpastian dalam mengadopsi inovasi. Tidak jarang inovator mesti kembali terhadap praktek atau metode usang alasannya penemuan yang dicobanya ternyata tidak cocok dengan kondisi lingkungannya.

Dengan demikian inovator merupakan pintu gerbang masuknya wangsit gres kedalam metode sosialnya. Meskipun demikian, dalam hal adopsi penemuan dibidang pertanian Gunawan (1988) mengingatkan ihwal adanya indikasi bahwa teknologi gres condong dimonopoli oleh petani besar, yang masuk dalam klasifikasi inovator ini, yang memiliki kanal yang lebih baik terhadap informasi, serta memiliki kesanggupan finansial yang lebih baik pula. Hal ini dalam prosesnya sanggup berakibat pada makin besarnya skala kerja keras petani besar, dengan kemampuannyauntuk melakukan konsolidasi terhadap usahatani-usahatani yang lebih kecil.

Apabila inovator condong bersifat kosmopolit, maka pengadopsi permulaan lebih bersifat lokalit. Banyak diantara mereka tergolong kedalam golongan pembentuk opini. Mereka sanggup menjadi panutan bagi anggota metode sosial yang lain dalam menyeleksi keputusan untuk menjajal sesuatu yang baru. Hal ini bermitra dengan jarak sosial mereka relatif bersahabat dengan metode sosial yang lain. Mereka mengenali dengan niscaya bahwa untuk memelihara iman yang sudah diberikan terhadap mereka mesti menciptakan keputusan-keputusan penemuan yang tepat, baik dari sisi materinya maupun dari sisi waktunya.

Pengadopsi permulaan (early adopters)
Pengadopsi permulaan dengan demikian mesti bisa menemukan resiko ketidakpastian, dan sekaligus penilaian subyektifnya perihal sebuah penemuan terhadap mereka di lingkungannya. Mayoritas permulaan mengadopsi sebuah wangsit gres lebih permulaan dari pada pada biasanya anggota sebuah metode sosial. Mereka sering bermitra dengan lingkungannya, tetapi jarang dipandang selaku pembentuk opini. Kehati-hatian merupakan keyword bagi mereka sehingga jarang diangkat selaku pemimpin.

Di pihak lain, secara lazim dikuasai tamat menatap penemuan dengan skeptisme yang berlebihan, mereka gres mengadopsi sebuah penemuan setelah sebagian besar anggota metode sosial mengadopsi. Mereka memang membutuhkan pertolongan lingkungannya untuk melakukan adopsi. Hal ini bermitra dengan ciri-ciri dasarnya yang condong kurang kanal terhadap sumberdaya. Untuk itu mereka mesti percaya bahwa ketidakpastian tidak mesti menjadi resiko mereka.

Kelompok lamban (laggars)
Kelompok tamat merupakan golongan yang paling bersifat lokalit di dalam menatap sebuah inovasi. Kebanyakan mereka terisolasi dari lingkungannya, sementara orientasi mereka pada biasanya merupakan pada masa lalu. Keputusan-keputusan diwarnai dengan pertimbangan apa yang sudah dilaksanakan pada masa lampau, sedangkan interaksi mereka pada biasanya cuma dengan sesamanya yang mempercayainya tradisi lebih dari yang lain. Mereka memiliki kecurigaan yang tinggi terhadap inovasi, golongan terdahulu sudah berpikir untuk mengadopsi penemuan yang lain lagi. Semuanya bermula dari kekurangan sumberdaya yang ada pada mereka, sehingga mereka sungguh-sungguh mesti percaya bahwa mereka terbatas dari resiko yang sanggup membahayakan ketersediaan sumberdaya yang terbatas tersebut.

Dengan wawasan ihwal kategorisasi adopter ini dapatlah kemudian disusun taktik difusi penemuan yang mengacu pada kelima klasifikasi adopter, sehingga sanggup diperoleh hasil yang optimal, sesuai dengan kondisi dan kondisi masingmasing golongan adopter. Hal ini penting untuk menyingkir dari pemborosan sumberdaya cuma alasannya taktik difusi yang tidak tepat. Strategi untuk menghadapi adopter permulaan misalnya, haruslah berlawanan dengan taktik bagi secara lazim dikuasai akhir, mengenang citra ciri-ciri mereka masing-masing (Rogers, 1983).

Download / Unduh Materinya di sini:

Wednesday, September 2, 2020

Pengertian Penyuluhan Pertanian


 Penyuluhan pertanian berisikan dua kata yang ialah kata bermacam-macam yakni adonan dar Pengertian Penyuluhan Pertanian
Penyuluhan pertanian berisikan dua kata yang ialah kata bermacam-macam yakni adonan dari kata "penyuluhan" dan 'pertanian'. Penyuluhan berasal dari kata 'suluh' yang bermakna obor atau pemberi terang dalam gelap. Oleh alasannya yakni itu, penyuluhan sanggup diartikan selaku kerja keras memberi terang atau isyarat bagi orang yang berlangsung dalam kegelapan. Pertanian bermakna penerapan karya insan pada alam tumbuhan dan binatang sehingga sanggup menemukan dan mengoptimalkan bikinan yang lebih berfaedah bagi kehidupannya sendiri beserta keluarganya serta bagi lingkungan masyarakat.

Penyuluhan pertanian dari arti katanya yakni kerja keras untuk menyediakan keterangan, penjelasan, petunjuk, bimbingan, tuntuna, jalan, dan arah yang mesti ditempuh oleh setiap orang yang berupaya tani biar mengoptimalkan guna, kualitas dan nilai produksinya sehingga lebih bermanfaat.

Pada prakteknya penyuluhan pertanian yakni sebuah metode pendidikan di luar sekolah (non formal) yang ditujukan terhadap petani dan keluarganya, dimana mereka menuntut ilmu sambil berbuat (learning by doing) untuk mengenali dan bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi secara baik, menguntungkan dan memuaskan.

Sjawal (1984) mengemukakan bahwa selaku metode pendidikan, penyuluhan yakni kerja keras untuk memunculkan pergantian yang diharapkan dalam sikap (behavior) para petani dan keluarganya. Perilaku yang diharapkan termasuk wawasan yang lebih luas, keahlian teknis yang lebih baik, kecakapan mengelolah yang lebih efisien, sikap yang progresif dan motivasi langkah-langkah yang lebih rasional.

Totok Mardikanto dan Sri Sutarni Mardikanto merumuskan definisi pneyuluhan pertanian selaku 'suatu metode pendidikan non formal di luar sekolah bagi para petani dan keluarganya biar terjadi pergantian sikap yang lebih rasional dengan menuntut ilmu sambil berbuat (learning by doing) hingga mereka tahu, mau, dan bisa berswakarsa untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi baik sendiri-sendiri maupun secara serempak guna terus meningkatkan kerja keras tani dan mengoptimalkan jumlah, mutu, macam, serta jenis dan nilai produksinya sehingga tercapai peningkatan pendapatan yang lebih berfaedah bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan kemakmuran penduduk pada umumnya'.

Monday, August 31, 2020

Adopsi Inovasi Dalam Penyuluhan

 langkah-langkah atau barang yang dianggap gres oleh seseorang Adopsi Inovasi dalam Penyuluhan
Inovasi merupakan gagasan, langkah-langkah atau barang yang dianggap gres oleh seseorang. Tidak menjadi soal, sejauh dihubungkan dengan tingkah laris manusia, apakah inspirasi itu betul-betul gres atau tidak jikalau diukur dengan selang waktu sejak digunakannya atau dikemukakannya pertama kali. Kebaruan penemuan itu diukur secara subyektif, menurut persepsi individu yang menangkapnya. Jika sesuatu inspirasi dianggap gres oleh seseorang maka ia merupakan inovasi. 'Baru' dalm inspirasi yang kreatif tidak mempunyai arti mesti gres sama sekali. Suatu penemuan mungmin sudah usang dikenali oleh seseorang sementara waktu yang kemudian tetapi ia belum membuatkan perilaku suka atau tidak senang terhadapnya, apakah ia menerima atau menolaknya (Rogers dan Shoemaker, 1987).

Adopsi penemuan mengandung pemahaman yang kompleks dan dinamis. Hal ini disebabkan lantaran proses adopsi penemuan sebenarny merupakan menyangkut proses pengambilan keputusan, dimana dalm hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Rogers dan Shoemaker (1971) menampilkan defenisi mengenai proses pengambilan keputusan untuk menjalankan adopsi penemuan selaku berikut:

'..... the mental process of an innovation to a decision to adopt or reject and to confirmation of this decision...'

Tahapan Adopsi Inovasi

Rogers (1971) membagi proses adopsi menjadi 5 tahapan, selaku berikut:
1. Tahapan kesadaran (awareness)
2. Tahap manuh minat (interest)
3. Tahap penilaian (evaluation)
4. Tahap menjajal (trial)
5. Tahap adopsi (adoption)